Perkara Partai Koalisi Islam yang Diusulkan Yusril, Begini Analisa Refly Harun

Perkara Partai Koalisi Islam yang Diusulkan Yusril, Begini Analisa Refly Harun

Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

JAKARTA kacau Ketua Umum Partai Kamar Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyatakan, partai-partai Agama islam bisa saja tampil secara satu partai koalisi pada pemilu, misalnya diberi tanda Partai Koalisi Islam. Ulung hukum tata negara Refly Harun bilang pembahasan UU-nya akan alot dan hendak ditolak partai nasionalis.

Diketahui, Yusril mengatakan, buat menyatukan partai-partai Islam dapat dimulai dengan pembentukan federasi partai yang harus mendapat legitimasi undang-undang, baik UNDANG-UNDANG Parpol maupun UU Pemilu.

“Partai-partai Islam bisa saja tampil secara satu partai koalisi di dalam pemilu, katakanlah misalnya diberi nama Partai Koalisi Islam yang terdiri atas kurang partai Islam peserta pemilu. Tanda gambar peserta pemilunya terdiri atas beberapa kelompok Islam yang bergabung dalam koalisi itu, ” perkataan Yusril, Kamis (15/4/2021).

Baca pula: Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini

Mengomentari hal tersebut, Refly mengatakan, ini benar membutuhkan suatu pembahasan UU yang alot. “Dan beta yakin partai-partai nasionalis tidak mau karena itu sepadan saja membuka peluang bani macan menjadi besar. Karena bagi partai-partai nasionalis, dengan mereka khawatirkan adalah bersatunya partai-partai Islam, bersatunya mereka yang berbasis massa Agama islam, dan kemudian menjadi kekuatan utama politik lagi pada Republik Indonesia, ” jelas Refly dalam video berjudul POROS PARTAI ISLAM 2024!! GABUNG?! yang tayang di Channel YouTube Refly Harun, Kamis (15/4/2021).

Baca Juga:

Refly membaca, pada dasarnya pada tahun 1955, ketika pemilu mula-mula diadakan, partai-partai Islam serta berbasis massa Islam, cukup mendominasi. Dalam empat gede hasil pemilu ada dua partai besar Islam yang cukup mendominasi yakni Masyumi dan NU.

Baca juga: PAN Tidak Akan Ikut Gandar Islam di Pemilu 2024, Ini Alasannya

“Persatuan menjelma penting, agar gelombang atau perahu nakhoda ini tidak terlalu condong ke kiri karena bagaimanapun kita membutuhkan keseimbangan di dalam kebijakan kita ke depan tersebut. Sebagaimana the founding parents kita membangun Indonesia itu dengan perimbangan dua golongan, kelompok agama dan klan nasionalis. Jadi, tidak dapat ada satu kelompok dengan sangat dominan sehingga yang muncul justru misalnya Islamofobia, ” jelasnya.