Pengeroyokan yang Berujung Maut di Siwalankerto Diawali Kasus Perkosaan

Pengeroyokan yang Berujung Maut di Siwalankerto Diawali Kasus Perkosaan

Dapatkan promo member baru Pengeluaran HK 2020 – 2021.

SURABAYA – Satreskrim Polrestabes Surabaya berhasil menangkap dua pelaku peristiwa pengeroyokan hingga berujung tewasnya Muhammad Vito Zakaria (MFZ) Sabtu (22/5/2021). Kedua karakter ini diamankan lantaran diduga membunuh remaja berusia 18 tahun itu di kamar kos Siwalankerto V-F Daerah Baru, Surabaya, Jumat (21/5/2021).

Mereka ialah Akbar alias Tanjung (19) dan Arif (18), keduanya warga Surabaya. Akbar serta Arif diringkus di rumahnya masing-masing. Sedangkan dua temannya lagi ditetapkan sebagai daftar pencarian orang alias DPO polisi, yakni RF & SD.

Baca juga: Diteriaki Maling, Bagian TNI Babak Belur Dikeroyok Preman Terminal Bungurasih

“Motif pengeroyokan akibat saling balas jarang kelompok pelaku dan target. Diawali salah satu karakter inisial B, diduga memperkosa teman korban, ” sebutan Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Ambuka Yudha, Senin (24/5/2021).

Baca Juga:

Ambuka menambahkan, kelompok korban tidak terima serta melakukan pengeroyokan terhadap salah satu pelaku B (18) dan memukulinya. Setelah dipukuli itu, B mengadu ke teman-temannya, termasuk Akbar nama lain Tanjung dan AR. Mereka kemudian membalas mengeroyok kedua korban, MFZ dan AF di depan Universitas Petra dan di Jalan Ketintang.

Baca juga: Tersangka Kasus Sangkaan Penganiayaan ART Dijebloskan ke Tahanan

“Akibat pengeroyokan itu, MFZ tewas di rumah kosnya. Sedangkan AF terluka serta dirawat di rumah lara, ” terangnya.

Sementara itu, salah utama tersangka, Akbar mengaku dirinya ikut memukul karena diajak B. Akbar mengaku memukul sebanyak tiga kali pada kepala dan badannya. Awalnya B bilang kalau dikeroyok oleh MFZ dan AF. “Kita bersama-sama sekitar 15 sampai 20 orang mengeroyok MFZ dan AF, ” katanya.

Baca juga: Uang Duka Rp1, 2 Miliar Sumbangan Dibagikan Kerabat alm Wagub Papua Klemen Tinal ke Warga yang Melayat

Terkait siapa yang membenturkan kepala korban ke tembok, Akbar mengaku tak tahu. Dia tak terang jika korban dinyatakan wafat akibat benturan keras itu. “Saya tidak terlalu banyak ikut mengeroyok. Saya serupa tidak tahu korban meninggal dunia. Soalnya saat diantar ke kosnya, korban sedang hidup dan dalam situasi tak sadarkan diri, ” terangnya.

Akibat peristiwa tersebut, kedua tersangka dijerat Pasal 170 ayat 2 ke 3e KUHP tentang penganiayaan yang dilakukan secara bersama-sama atau pengeroyokan yang mengakibatkan korban wafat dunia.