Korban Penganiayaan DPRD Labusel Ngaku Diintevensi Oknum Polisi

Korban Penganiayaan DPRD Labusel Ngaku Diintevensi Oknum Polisi

RANTAUPRAPAT – Korban tindak kejahatan penganiayaan anggota DPRD Labuhanbatu Daksina Muhammad Jefry Yono mengaku diintervensi oleh oknum polisi di Polsek Torgamba, Kepolisian Resor Labuhanbatu.

Penasihat hukum Muhammad Jefry Yono, M Sa’i Rangkuti, Selasa (22/9/2020) malam di Rantauprapat, mengambarkan lagu yang dilakukan oknum Polisi kepada kliennya untuk menjatuhkan mental terkait ancaman kasus dugaan pencurian dengan dihadapinya. (Baca juga: Sadis, Oknum Anggota DPRD Labuhanbatu Selatan Lakukan Penyiksaan)

Dalam video durasi 32 detik, korban menceritakan kepada pengacaranya saat berada di Polsek Torgamba. Ancaman lisan itu berupa pidana hukuman kurungan penjara maksimal, uang Rp300 juta hingga pembebasan bersyarat, jika setuju mencabut laporan secara nomer STPLP/787/VII/2020/SPKT RES-LBH Polres Labuhanbatu, atas penganiayaan berat yang dikerjakan oknum anggota DPRD Labuhanbatu Daksina, IF dari Fraksi PDIP. (Baca juga: Oknum Penjaga yang Dilaporkan Setubuhi Gadis Pelanggar Lalu Lintas Terancam Dipecat)

Pihaknya sangat menyayangkan tindakan intervensi itu, sehingga sanggup mencoreng lembaga kepolisian yang sudah terjaga dengan baik selama tersebut. (Baca juga: Korsleting Listrik, Kantor Bupati Labuhanbatu Nyaris Terbakar)

“Kalau kira-kira ada intervensi dari pihak kepolisian ya menganggu proses dasar, menganggu independensi artinya ada keberpihakan polisi di sini. Tugas mereka hanya melakukan proses penegakan asas bukan artinya mengarahkan orang untuk berdamai, ” kata M Sa’i Rangkuti didampingi tim kuasa dasar lainnya Makmur Rahmad, Rizky Fatimantara Pulungan, Sonang Basri Hasibuan dan Muhammad Ilham.

Baca Pula:

M Sa’i Rangkuti menjelaskan, pihaknya sangat mengapresiasi dan mendukung Kepolisian Resor Labuhanbatu dalam menangani kasus IF. Menurut di, kepolisian sangat profesional dan berhati-hati dalam mengungkap kasus dengan menyita perhatian publik ini.

Pihaknya meminta kepada pihak berwajib untuk menegakan dominasi hukum dan siapapun yang bersalah harus bertanggung jawab. Dengan serupa itu, membuktikan rasa hormat tanpa mengurangi empati yang tinggi dari masyarakat. Apalagi intervensi hukum kepada target Muhammad Jefry Yono atas peristiwa IF sangat berbeda dan butuh perhatian.

“Polisi gak berhak mengarahkan orang berdamai sehingga menganggu citra polisi itu sendiri, ” jelas dia.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Deni Kurniawan meminta waktu untuk membaca informasi tersebut. “Terima kasih infonya, akan saya cek, ” jelas dia.

Sementara tersebut, Kapolsek Torgamba AKP Firdaus Kemit membantah tudingan intervensi kasus perseorangan anggota DPRD Labuhanbatu Selatan, Imam Firmadi terkait kasus Muhammad Jefry Yono. “Masalah Imam ditangani Polres bukan di Torgamba. Masalah Jefry ditangani Polsek. Cek dulu kebenarannya, ” jelas dia.