Aksi Simpatik Warga Jelang Vonis Mati 2 Terdakwa Kasus Narkoba

Aksi Simpatik Warga Jelang Vonis Mati 2 Terdakwa Kasus Narkoba

loading…

PADANGSIDIMPUAN – Aksi simpatik digelar puluhan warga dan mahasiswa di depan kantor Pengadilan Negeri (PN) Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, menjelang vonis mati dua orang tersangka narkoba jens ganja sebanyak 250 kilogram.

Menurut pantauan SINDONews, aksi simpatik tersebut berasal dari seluruh kalangan masyarakat dan mahasiswa. Massa umumnya berasal dari kalangan perempuan dan anak muda. Mereka sudah berkumpul di halaman PN Padangsidimpuan dalam pukul 10. 00 WIB. Umumnya, mereka datang dari Kabupaten Mandailing Natal, kampung kelahiran dua orang terpidana mati tersebut. (Baca juga: Wali Kota Sidimpuan Diserang Hoaks, Pitra: Hentikan atau Proses Hukum! )

Mereka datang dengan membawa poster bertuliskan “Tegakkan HAM hak hidup adalah hak asasi manusia”. Selain itu, warga juga membawa poster yang dengan tulisan “Vonis mati tanpa emosi”. Selanjutnya, poster bertulis “Pak JPU tuntutan mati bukanlah solusi DPOnya mana? inch. (Baca juga: Kurir Sabu 79 Kilogram Divonis Mati Pengadilan Negeri Palembang)

Baca Juga:

Kuasa hukum kedua terpidana mati, Sahor Bangun Ritonga menyatakan terima kasihnya kepada masyarakat dan mahasiswa yang sudah proses aksi simpatik tersebut. Menurut dia, saat ini, sebagai kuasa hukum kedua terdakwa, dia terus berusaha agar agar kliennya terhindar dari hukuman mati itu.

Sekadar mengingatkan, Dua kurir ganja seberat two hundred and fifty kilogram yang ditangkap aparat Polres Padangsidimpuan, Sumatera Utara, pada nine Januari 2020, dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum, Gabena Pohan pada sidang yang digelar, Selasa (18/7/2020).

Menyikapi hal tersebut, kuasa hukum kedua terdakwa Adi Syahputra (25) lalu Pandapotan Rangkuti (43) warga Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal, Sahor Bangun Ritonga mengatakan, dirinya akan melakukan pembelaan pada kedua klliennya itu. Sebab, kedua terdakwa nekat melakukan perbutan tersebut dikarenakan terjepit kebutuhan ekonomi.

(nth)